Tidak berhubungan dengan dua cerita sebelumnya (Alasan bodoh, dan Alasan bodoh (Lanjutan)) tapi masih dengan orang yang sama, tempat yang sama.
Saya: “Aneh, di Malaysia saya cepat lapar, jadi harus sering makan”
Kawan: “Bagus”
Saya: “Kenapa?”
Kawan: “Kalau banyak makan bisa berak tiap hari”
Aneh. Kenapa alasannya selalu berhubungan dengan berak. Makan-berak. Notabene, kawan saya ini pernah mengajari saya untuk mencoba tidak makan dua hari.
Saya: “Lapar”
Kawan: “Coba tahan sampai dua hari”
Saya: “Kenapa?”
Kawan: “Nanti terasa nikmat, seperti melayang, coba saja”
Saya: “Bodoh, diberi mulut kok tidak diberi makan”
Dialog yang pertama terjadi ketika kami berdua pergi ke salah satu kedai untuk makan malam. Sampai kedai, dia pesan satu porsi nasi ayam, tambahannya? 10 tusuk sate ayam. Saya? Hanya satu porsi nasi ayam saja, ditambah 2 tusuk sate ayam dari dia. Di malam sebelumnya, yang dimakannya adalah satu porsi nasi goreng cina, ditambah satu porsi kwetiaw kungfu. Saya? Hanya nasi goreng USA, itu pun pesan separo.
Beda amplitudo dan frekuensi.
Posted in Cerita | Tags: dialogue, food, health, metabolism