Posted by: jagrag | October 5, 2007

Fenomena Jagrag

”Standarnya, Mas!”
Belum pernah terpikir oleh saya sebelumnya bahwa benda yang hanya berfungsi untuk menyandarkan motor, bisa membawa pahala. Lho, begimana bisa?

Ketika pertama kali saya mendengar kata-kata ”Standarnya, Mas!” di hari ketika per standar motor saya lepas, saya langsung berfikir, orang itu cukup peduli dengan mengingatkan bahwa standar saya belum dinaikkan. Orang itu dapat pahala, pikir saya.

Per standar motor saya lepas, otomatis standarnya jadi turun. Secara teknis, per tersebut berfungsi menahan standar motor agar dia hanya punya dua posisi: naik ketika motor akan berjalan (tentu saja didorong pake kaki) dan turun ketika motor berhenti. Nah, pada waktu motor berjalan kadang pengendara motor lupa menaikkan standarnya. Pada waktu inilah orang lain yang melihat kondisi tersebut mengingatkan si pengendara motor untuk menaikkan standarnya dengan bilang ”Standarnya, Mas!”

Kalo di Jawa Timur (terutama Mojokerto, kota kelahiran saya), standar motor disebut dengan ’jagrag’. Jadi kata-kata ”Standarnya, Mas” berubah menjadi ”Jagrag e, Mas!”.

Dalam sehari itu lebih dari lima puluh kali saya menerima teguran “Standarnya, Mas!” dari orang lain. Lho, kok banyak amat? Iya, lha wong memang saya sengaja membiarkan standar itu turun dengan mengorbankan keselamatan dan kenyamanan saya. Alasannya sederhana: saya ingin orang lain meraup pahala dengan mengingatkan saya (hoalah… males mengganti per sebenernya juga merupakan alasan sih).

Anda masih ingat kata pak ustadz kan? ”mencari pahala itu bisa dengan cara yang sangat sederhana, sesederhana menyingkirkan kerikil, serpihan kaca, batu, bangkai tikus, bangkai ayam, mayat, mobil (wah, dua yang terakhir hiperbolis) dari tengah jalan agar orang lain tidak kena batunya (berarti memang harus batu yang disingkirkan ya, hehe..)”. Kalimat itulah yang membuat saya ingin membantu orang lain mendapat pahala. Logikanya, kalo menyingkirkan batu agar orang lain tidak kecelakaan, maka mengingatkan saya akan ’jagrag’ agar tidak kecelakaan pun mendapatkan pahala.

Anda patut mencoba ini (tentu saja dengan berfikir dua kali). Sepanjang perjalanan saya merasa bahagia dan berguna karena membuat orang lain merasa berguna. Pada awalnya saya merasa risih karena setidaknya setiap 10 meter paling tidak ada satu orang yang bilang ”Standarnya, Mas!” (ini beneran lho!). Lama kelamaan saya menjadi terbiasa bahkan saya bisa menebak ”nah nah, orang itu pasti mau ngingetin saya” atau bahkan ketika saya haus diingatkan orang, saya berjalan pelan di dekat orang yang ada di pinggir jalan, dan memang berhasil, orang itu lantas mengingatkan saya (dasar orang aneh).

Saya pun bilang kepada Mer (wanita yang saya bonceng waktu itu) ”mau bantuin orang lain dapet pahala ga?”

”Wah, gimana cara?” dia bilang.

“Ntar aku tunjukin”

Ketika ada yang bilang “Standarnya, Mas!” saya bilang ke dia, ”nah itu orang barusan dapet pahala”. Lalu saya ceritakan hal yang sama dengan yang saya tulis di atas kepadanya dan dia bilang bahwa ini kegiatan yang seru sekali (memang sih).

Lalu saya berteori lagi, kalo saya melakukan hal yang sama di Jakarta, Mojokerto atau kota lain, belum tentu saya menerima jumlah teguran yang sama seperti saya melakukan hal ini di Bandung (kota dimana saya sekarang tinggal). Jadi tingkat kepedulian masyarakat bisa diukur melalui cara ini (halah, ini sih cuma pembenaran, tapi lucu). Atau memang mengingatkan orang tentang standar adalah standar (maksudnya ngingetin orang tentang standar merupakan budaya atau refleks), saya belum tahu. Tapi yang jelas, cara unik ini membantu orang lain mendapatkan pahala.

Saya jadi salut sama jagrag. Dan coba tebak, gara-gara fenomena ini sampai sekarang saya belum belikan per untuk jagrag saya (ini sih lebih karena males). Fenomena jagrag memang unik.


Responses

  1. Pertamax. kasian belum ada yang komen

  2. Solar. kasian belum ada yang komen

  3. Elpiji. Lho, masuk 2 2 nya toh?

  4. hah!komen prtama kli..
    slain dirimu tntunyaa..
    ckckck..gda krjaan amat..wlopen seru dan mmbwt org dpat pahala..😀

  5. lho…khan kalo ada yang bilang…
    ‘standar mas’
    jawabannya
    ‘ti batan maneh… goreng!!!’
    hehehehe

    ngerti ga fa??? hehehehe

  6. OOO jagran itu standar ya….baru taw…
    Kalo dipikir2 males gak selamanya buruk ya hehe.. Buktinya simas, karna males mbetulin standarnya, orang2 sekitar mendapat pahala karena memberi taw “standar blm dinaikkan” hihihi..dada aja deh…😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: