Posted by: jagrag | October 30, 2007

Apa Kita Ga pernah Diajari Ngatur Duit?

Lebaran telah berlalu.Lebaran abis, duit juga abis. (termasuk saya, hahahahaa..)

Saya sering ngobrol sama bapak calon mertua, beliau sekarang lagi bikin kos-kosan. Beberapa hari sebelum lebaran,mulai banyak deh pekerja-pekerja bangunan yang kas bon, padahal gaji juga udah dikasih. Alasannya adalah, uangnya mau dipake buat lebaran. Memang sih pulang ke kampung halaman butuh biaya tambahan, belum lagi beli oleh-oleh ditambah lagi harus beli pakaian baru (tradisi lebaran di negara kita). Yang tidak habis pikir, mereka beli pakaian-pakaian baru itu di Cihampelas yang memang relatif lebih mahal (rata-rata Rp. 100 ribuan) kalo di bandingin dengan pakaian-pakaian di Kebon Kalapa ato sentra pakaian lain di Bandung (rata-rata Rp 50 ribuan). Mungkin mereka pengen gaya di kampung dengan memakai pakaian made in Cihampelas yang terkenal di Bandung itu.

Ada juga cerita lucu, masih dari bapak calon mertua. Nah, ceritanya gini, di salah satu penjahit di Jakarta yang punya beberapa pegawai, ada kebiasaan unik dari pegawai-pegawai tersebut menjelang lebaran. Mereka kerja lembur untuk nyari tambahan, beruntung karena masa-masa itu banyak orang yang ngejaitin. Setelah semua kerjaan beres, sehari atau dua hari sebelum mereka mudik, giliran mereka menjahit pakaian baru mereka sendiri. Alhasil, ada uang tambahan untuk mudik, pakaian pun baru. Uang tambahan itu mereka gunakan untuk bermewah-mewah di kampung sampai ludes. Lalu gimana cara ke Jakarta kalo duit udah habis? ya jualan pakaian yang baru yang mereka bikin sendiri itu.

Apa yang salah dari kebiasaan ini? yang salah adalah manajemen keuangan mereka.

Mereka tahu tiap tahun ada lebaran, mereka tahu pendapatan mereka berapa, uang yang ada di tangan berapa, uang yang dibutuhkan untuk biaya hidup sebulan-dua bulan ke depan berapa, tapi tetep aja tiap tahun harus jualan pakaian baru atau kas bon. Kalo udah tahu bakal butuh duit lebih ketika lebaran, knapa ga coba nabung? padahal ada waktu 11 bulan sebelum lebaran.

Memang cara berfikir beberapa orang berbeda dengan yang saya pikirkan. Keberuntungan yang didapatkan juga berbeda. Beberapa orang berfikir kalo ada uang ya dimanfaatkan aja, beli ini beli itu, mumpung ada uang. Nabung? urusan nanti. Sedihnya adalah, orang2 yang berfikiran seperti itu adalah orang2 yang lebih tidak beruntung dari saya (alhamdulillah) seperti pekerja bangunan atau penjahit seperti yang saya ceritakan di atas.

Mungkin ini juga yang menyebabkan konversi minyak tanah ke elpiji terhambat. Orang-orang lebih memilih beli minyak tanah daripada beli elpiji yang meskipun harga per-harinya lebih murah. Keunggulan minyak tanah adalah: bisa dibeli kapan saja dengan uang seadanya. Pemerintah memaksakan konversi disertai sosialisasi bahwa elpiji memang lebih murah. Menurut saya pemerintah kurang melakukan satu hal: mengajari pengguna minyak tanah ini untuk mengelola duit.

Kalo diselidiki, kadang pendapatan beberapa orang yang kurang beruntung tadi ada di bawah UMR. Tidak bisa disalahkan kalo hidup mereka disertai kegiatan gali lobang tutup lobang. Ada seorang pegawai usaha jualan singkong yang saya kenal, setiap kali dia gajian, 75% uangnya habis untuk membayar utang. Sisa 25% digunakan untuk keperluan hidup. Paling bertahan 1/4 bulan. 3/4 bulan selanjutnya ya utang lagi.

Menurut saya, manajemen keuangan adalah mengatur uang sedemikian rupa sehingga cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran lain (seperti hutang, cicilan, dll) bahkan untuk disimpan demi kesejahteraan masa depan atau kalau-kalau ada keperluan mendadak (berobat misalnya). Manajemen keuangan ini perlu ditanamkan sejak kecil, beruntung kalo orang tua kita mengajari hal itu. Gimana bagi yang nggak? ya lewat pendidikan formal: sekolah (SD, SMP, SMA), karena salah satu yang bertanggung jawab mencerdaskan bangsa ya pemimpinnya.

Moga-moga pemerintah semakin sayang terhadap rakyatnya, peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya, menyediakan pendidikan manajemen keuangan secara memadai demi Indonesia yang lebih baik. amiin


Responses

  1. Ini juga yang membuat aku bingung, setauku Indonesia belum menjadi negara maju, malah menurutku perekonomiannya dalam titik kritis. Tapi ya itu kok kayanya masyarakat kita itu kebanyakan boros dan senang bermewah-mewah.

    Dan yang lebih parah lagi biasanya untuk senang-senang sesaat itu, kadang dipaksakan, tidak dengan perhitungan dan lain-lain.

    Ya itu tadi tidak ada manajemen keuangan dan rasa sosial terhadap sekitar yang memang makin lama makin hilangšŸ˜¦

  2. Asyik dong bisa ngobrol dengan bapak calon mertua, apalagi sempat ngobrol ttg uang he…he…

    Lebaran telah berlalu.Lebaran abis, duit juga abis. (termasuk saya, hahahahaa..)

    karena di indonesia ada budaya mudik “lebaran”, jadi lebaran dan mudiknya itu menjadi hal yang paling istimewa hingga lupa ngatur duitnya.
    bahkan mungkin ada yang melupakan bahwa setelah lebaran kita masih perlu biaya hidup.

  3. Next postingan: Pernah Terbayang Anda Terlahir Dengan Hutang?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: