Posted by: jagrag | March 31, 2008

Benarkah kaum intelektual menghancurkan tanah airnya sendiri?

Ini adalah komentar iseng dari postingan sebelumnya.

Tentu saja setiap orang menginginkan yang terbaik untuk dirinya (basic instinct). Menginginkan yang terbaik untuk lingkungan (dalam konteks ini: negara) adalah tanggung jawab moral. Tentu basic instinct kedudukannya lebih tinggi dibanding tanggung jawab moral. Contoh, makan lebih penting daripada kerja bakti atau bahasa lainnya, dahulukan makan sebelum kerja bakti daripada entar pingsan.

Lalu apakah kaum intelek yang sedang menimba atau mengaplikasikan ilmu di luar negeri adalah orang yang tidak bermoral? Jawabannya: Belum tentu. Suatu tindakan terjadi karena dorongan internal dan eksternal. Dalam kasus ini, secara internal ada keinginan untuk membuat taraf hidup lebih baik (basic instinct). Fakta, dunia akademis di luar negeri lebih makmur dibanding di Indonesia.

Secara eksternal, ada dorongan yaitu bahwa Indonesia belum mampu memberikan timbal balik yang memadai bagi kaum intelek ini. Selain itu yang lebih penting adalah, Indonesia bukanlah kiblat ilmu pengetahuan (bagi penimba ilmu). Sebagai contoh, kalo mau mempelajari ilmu struktur, datanglah ke dewa-nya struktur (di Eropa), kalo mau mempelajari ilmu penerbangan, belajarlah ke dewa-nya penerbangan, dlsb. Pepatah lama juga mengatakan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, bisa juga diartikan, pergilah ke tempat dimana dewa-nya ilmu itu berada. Apa kita ga dibilang sombong kalo ga mau belajar ke yang lebih pintar? Tetangga kita Malaysia saja banyak menyekolahkan orangnya ke Eropa, Amerika, Jepang, dll (dulu ke Indonesia Juga kan?) meskipun secara ‘otak’ kita tidak kalah.

Kembali lagi ke topik. Apakah orang yang pergi menuntut ilmu kepada yang terbaik adalah salah atau bahkan berkhianat terhadap negaranya sendiri? Tergantung niat dan mau diapakan ilmunya nanti. Tengok Habibie, apa yang kurang dari dia? Dia pernah menjabat sebagai vice-president dari Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), sebuah perusahaan aerospace di Jerman (artinya, dihargai di luar negeri), dan yang lebih penting lagi: dia bersedia mengkontribusikan ilmunya pada negara, salah satunya melalui PT. DI.

Namun ternyata pemerintah belum bisa menghargai kaum intelektual. Pada kasus Habibie di atas, apa yang terjadi? Habibie tidak jadi ‘menyembuhkan’ PT. DI yang sedang sakit karena pemerintah tidak meluluskan permintaan sederhananya (minta golden share 5% dari PT DI tersebut, CMIIW). Ini adalah salah satu contoh kompensasi buruk dari pemerintah Indonesia terhadap kaum Inteleknya. Bukti lain bahwa kaum intelek kurang dihargai adalah perkataan Ketua Forum Rektor Indonesia periode 07/08 yang sekaligus Rektor ITB Joko Santoso “Percuma kalau bertepuk sebelah tangan. Menawarkan (hasil penelitian), tetapi tidak antusias disikapi”. Artinya, setelah berkorban mengalah kembali ke Indonesia, banting tulang membiayai risetnya sendiri, eee hasilnya belum tentu dihargai (o iya, sebagian dari mereka menuntut ilmu ke luarnegeri-nya juga usaha sendiri).

Salah satu hal yang membuat kaum intelek ini kembali ke nergaranya tercinta adalah tanggung jawab moral. Suatu saat memang Indonesia harus bangkit, dibangkitkan (salah satunya) oleh kaum Intelek. Biarlah mereka merantau dulu, belajar dari negara lain, asalkan suatu saat nanti kembali dan membangun Negara Indonesia tercinta. Satu pertanyaan sederhana yang mungkin akan dijawab ‘iya’ oleh sebagian besar kaum intelek ini adalah: “apakah anda ingin kembali ke Indonesia?”. Artinya, bukan sepenuhnya fenomena ‘kaum intelek lari ke luar negeri’ ini adalah salah mereka sendiri, tapi ada faktor eksternal yang diantaranya dari pemerintah.

Selain itu, menurut saya pribadi. Orang yang pernah menjalani hidup di luar negeri ada kemungkinan punya budaya ‘malu’, alias disiplin, jujur di Indonesia tidak kondusif untuk melatih budaya ini. Contoh, malu ketika buang sampah sembarangan, malu ketika melanggar lampu merah, malu ketika ga ngantri, dan semacamnya. Suatu yang simpel, tapi kata First World Indonesia (silakan klik dan download link di samping, ppt 498 Kb), attitude seperti inilah yang membuat perbedaan negara antara Negara miskin/lemah/berkembang dengan Negara kaya/kuat/maju.

O iya, notabene, tidak hanya dunia akademis saja yang tidak mampu digarap oleh pemerintah. Bahkan pada kebutuhan manusia paling mendasar pun tidak mampu (makan), contoh kasus: TKI. Salah seorang dari mereka berkata pada saya “Sebenernya di Indonesia sama disini sama-sama susahnya mas, tapi bedanya, di Indonesia susah dan ga bisa makan, kalo disini susah juga tapi masih bisa makan”.

Mohon maaf kalau tidak berkenan.


Responses

  1. […] Copy dan paste dari Mailing List Pendidikan Network dan di-isengkomentari di postingan selanjutnya. Mungkin bagi sebagian anak atau orang tua dan kita sendiri masih banyak yang belum menyadari bahwa […]

  2. Di mana pun kau berada
    Kau selalu bisa mempersembahkan
    Yang terbaik untuk Ibu Pertiwi
    Selamat berjuang kawan….

  3. Terima kasih Pak Angger.

    Jawaban saya adalah ‘iya, pasti’…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: