Posted by: jagrag | August 21, 2008

Conveying efficiency, kemampuan bertelor, mindmap

Ketika menuliskan komen di tulisan saya sendiri “Natalie du Toit: Impian dan Kenyataan”, saya meresmikan bahwa kemampuan saya bercerita sangat-sangat kurang jika dibandingkan dengan apa yang saya serap (baca atau rasakan). Meresmikan, maksudnya adalah menyatakan diri atau mengakui, kalau menyadari memang sudah dari dulu, tapi saya masih men-deny-nya.

Saya menyebutnya conveying efficiency atau bahasa indonesianya : kemampuan bertelor (dipopulerkan pertama kali oleh pak Khairul dan Mas Pandu). Conveyor belt berfungsi membawa suatu benda dari satu tempat ke tempat lain. Tapi kalo dari 100 benda yang dibawa dari tempat asal hanya 10 yang sampai di tempat tujuan, maka conveying efficiency-nya hanya 10% saja. Dalam analogi ayam, kalau si ayam banyak makan tapi sedikit mengeluarkan telor (hasil yang diinginkan) tapi justru banyak mengeluarkan kotoran (hasil yang tidak diinginkan), maka kemampuan bertelornya rendah (lho, kalo jadi daging gimana?).

Biasanya ini terjadi pas lagi ngerjain tugas akhir, nulis report, bikin paper, atau bahkan mau presentasi. Yang dibaca buanyaaak dan merasa mengerti, tapi ketika mau nulis, kok lupa, buka-buka buku lagi, malah lupa halaman yang mana.

Itulah yang terjadi dengan saya, banyak yang dibaca, tapi yang diingat sedikit. Banyak yang dikerjakan, tapi hasilnya sedikit. Banyak baca dan ngerti, tapi kalo ditanya lupa. Sering saya berdiskusi dengan supervisor, tapi akhirnya kandas tak sampai tujuan, “hasil perhitungannya itu sekitar..mmm.. brapa ya, lupa saya, nanti deh saya cek lagi, pokoknya besar-lah nilainya.” Akhirnya apa yang terjadi? ya diskusi ga asik, kalau ditanya teman tentang suatu kejadian pun tidak bisa bercerita detail karena lupa.

Saya termasuk yang inputnya besar, tapi outputnya kecil atau r<1 dimana r=output/input. Perlu mencari cara baru untuk mengingat atau merangkum dan menyampaikannya kembali sesuai dengan aslinya.

Saya jadi ingat MindMap(R)-nya Tony Buzan. Memvisualisasikan informasi dalam otak, memvisualisasikan cerita, memvisualisasikan poin-poin penting, bisa dilakukan dengan MindMap(R). Memang betul, cara ini bisa dicoba untuk menngurangi beban otak untuk mengingat. Tapi sayangnya dia menyarankan untuk membuat mindmap yang penuh warna dan gambar. Setiap kata pun disarankan untuk diletakkan dalam satu garis. Makin susah dan ruwet menurut saya.

Mindmap-nya Tony Buzan, rumit.

Masih berfikir bahwa mindmap adalah solusi bagus tapi males menggambar, maka saya gunakan mindmap versi sendiri. Pak Khairul juga sudah memperkenalkan saya teknik ini sewaktu dulu bikin-bikin laporan proyek. Jadinya seperti ini:

Sharing saja, sampai sekarang pun masih mencoba memperbaiki kemampuan otak. Selamat mencoba!


Responses

  1. Setuju…

    Berpikir positif modal utama untuk menambah kinerja otak.

    Ciptakan r > 1.
    r = 100 atau lebih.
    kamu bisa!!!

  2. Salam

    semangat and semangat ,aduh kemana aja kagak nongol mas ..:)

    Positif – Negatif + positif = Positif

  3. wah..mind map yak…..

    mantap, biar nggak salah milih otak yang mana yg nanti kita pakai😀😀😀

  4. gak mole nang bandung ta? arep bukaan kantor nang cigadung …🙂 karo pak khairul & pandu barang …

  5. *kuliah*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: