Posted by: jagrag | September 18, 2008

Mencintai apa adanya

Suamiku seorang insinyur. Aku mencintai sifatnya yang alami, dan sangat menyukai perasaan hangat yang muncul dihatiku saat aku bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus kuakui, bahwa aku mulai merasa lelah. Alasan-alasanku mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

aku seorang perempuan yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Aku selalu merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah kudapatkan. Suamiku jauh berbeda dari yang kuharapkan. Rasa romantisnya kurang.

Ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapanku akan cinta yang ideal.

Suatu hari, aku beranikan diri untuk mengatakan keputusanku kepadanya, bahwa aku menginginkan perceraian.

“Mengapa?” Dia terkejut.

“aku lelah, Mas tidak pernah bisa memberikan cinta yang kuinginkan.”

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaanku semakin bertambah, mengetahui bahwa suamiku adalah seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya. Apalagi yang bisa aku harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah pikiranmu?”

Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Aku punya pertanyaan, jika Mas dapat menemukan jawabannya, pikiranku mungkin bisa berubah. Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika Mas memanjat gunung itu, Mas akan mati. Apakah Mas akan melakukannya untukku?”

Dia termenung dan akhirnya berkata, “Aku akan memberikan jawabannya besok.”

Hatiku langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan aku menemukan selembar kertas dengan tulisan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan….

“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan aku untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku. Aku melanjutkan membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, aku harus memberikan jari-jariku supaya bisa membantumu memperbaiki programnya.”

“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”

“Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu tersesat di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, aku harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mataku untuk mengarahkanmu.”

“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu yang pegal.”

“Kamu senang diam di rumah, dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi ‘aneh’ dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang kualami.”

“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”

“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.

“Tetapi Sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”

“Sayangku, aku tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.”

“Untuk itu, Sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mataku jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha membacanya.

“Dan sekarang, Sayangku, kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawabanmu.”

“Jika kamu tidak puas, Sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai aku lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

diambil dari: http://layar.suaramerdeka.com


Responses

  1. kisah yg menarik.
    cinta butuh pengorbanan.
    pengorbanan jd indah karena cinta.

  2. salam

    Love…..I know that you are mine ……:)

  3. semangat cinta …….
    Cinta datang kita berseri……
    Cinta pergi jangan kau tangisi…
    ……..:(……..:)

  4. Saya sering sekali berkata kata yang tidak semuanya indah, kadang saya salah, mungkin riya, mungkin sedikit dusta … dan saya mohon untuk dimaafkan segala kesalahan saya yah🙂

    Minal aidin wal faidzin … maafkan saya lahir dan batin karena beginilah kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta maaf dan memberi maaf.

    Rindu [a.k.a -Ade-]

  5. cinta..cinta dan cinta….(*tiada kata yg hilang untuk sebuah cinta)..hakikatnya….biarkan cinta tumbuh dan mengalir layaknya air….

  6. […] Mungkin kita semua bisa belajar mencintai pasangan kita apa adanya…. […]

  7. saatnya untuk dapat mencintai semua orang dengan segala kekurangan dan kelebihan…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: